Batak Punya Karakter Khas
Sangat mengesankan ketika Adler Haymans Manurung menerangkan teori perencanaan keuangan. Dalam paparannya, ia mengurai beberapa poin penting dalam rangka menjamin masa depan yang terjamin secara finansial. Menurut dia, perencanaan itu sudah harus dimulai dari sekarang. Ia tak sekadar hanya memberikan teori semata tetapi langsung memperlihatkan gambaran visual yang tertuang dalam angka-angka serta perhitungan matematis termasuk memasukkan tingkat inflasi pada beberapa tahun mendatang. “Orang Batak memang ahli dalam hitung-hitungan semacam ini. Jadi tak heran kalau saat ini terdapat banyak orang Batak yang menekuni profesi seperti ini,” kata Adler yang kini tercatat sebagai Direktur Pengelolaan Investasi PT Nikko Securities Indonesia, Jakarta.
Berderet jabatan lain juga dipercayakan kepada sosok Adler yang terkenal dengan keahliannya dalam menganalisis pergerakan pasar modal. Analisis yang ia berikan selanjutnya digunakan oleh manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan terkait pembelian instrumen investasi. Lainnya, analisis ala Adler juga digunakan ketika memutuskan untung-rugi perusahaan ketika ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Tak hanya itu, Adler juga diandalkan ketika para investor berniat menanamkan modalnya di perusahaan-perusahaan tertentu. Di sini, ia bertugas untuk memberikan rekomendasi kepada investor atas analisis saham yang dilakukan.
Sebagai orang Batak, Adler Haymans Manurung bangga karena ia telah berhasil mencetak generasi muda Batak yang handal dalam dunia pasar modal. “Prioritas pertama ketika merekrut karyawan adalah orang Batak,” kata Adler menerangkan impiannya untuk mewujudkan generasi Batak yang bermutu. Menurut dia, karyawan pada perusahaan milik pribadinya mayoritas ditempati oleh orang Batak yang betul-betul memiliki sisi kualitas intelektual di atas rata-rata. “Setiap hari saya selalu memberikan pengajaran berharga kepada mereka,” lanjut Adler seraya menambahkan bahwa para karyawan hasil didikannya tersebut sudah ada yang bergaji besar.
Karakter orang Batak yang gesit dan tepat dalam perhitungan menjadi tolok ukur bagi Adler bahwa sosok yang pas ditempatkan dalam dunia pasar modal adalah orang Batak itu sendiri. Seperti diketahui, laju dan arus pergerakan di pasar modal sangatlah cepat sehingga dibutuhkan ketepatan dan kecepatan dalam bertindak. Sebab jika tidak, perusahaan akan mengalami rugi besar hanya dalam waktu yang sangat singkat. Untuk itu, kata Adler, keuletan dan cepat beradaptasi pada situasi dan keadaan pasar mutlak menjadi modal utama seorang analis pasar modal.
Tentu, Adler tidak begitu saja memperoleh keahliannya. Butuh perjuangan dan kerja keras. Kerja keras dan perjuangannya memang tak lagi mengundang keraguan. Terbukti dari banyaknya kursus maupun seminar yang dia ikuti baik di dalam maupun luar negeri. Keseluruhan pengalaman ini pantas membuat Adler menjadi semakin matang dan siap menganalisis walau harus menghadapi data yang begitu rumit. Itu masih pengalaman pendidikan nonformal saja. Adler, kini menyandang gelar akademik yang tidak dapat dituliskan dalam waktu singkat. Sederet gelar akademik berada di depan dan di belakang namanya. Semua itu diperoleh Adler dari hasil kerja kerasnya ketika menggali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Pria kelahiran Narumonda, Tobasa 17 Desember 1961, ini selain seorang analis handal pasar modal, ia juga didaulat sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi terkenal. Keahlian yang dia miliki ternyata tak disia-siakan oleh pihak kampus. “Saya memang senang mengajar,” tandas Adler. Saat ini, Adler mengajar di program magister dan doktor Universitas Indonesia, IPB, UNPAD, serta AFBII Perbanas. Konsekuensinya, Adler harus siap untuk membagi waktunya untuk tugas di kantor dan tugas di kampus. Di sinilah letak ketangguhannya sebagai orang Batak yang tak pernah mengeluh karena harus membagi-bagi keahliannya. Justru, padatnya aktivitas yang ia tekuni menjadi inspirasi dan spirit baru bagi dia untuk menuliskan pengetahuannya dalam bentuk buku maupun dalam bentuk tulisan lainnya, seperti artikel.
Saat ini, karya tulis Adler Manurung yang tertuang dalam bentuk buku telah mencapai 25 buah buku. Selain buku, ia juga telah menghasilkan ratusan artikel hasil penelitian serta dipercaya oleh beberapa media terkenal untuk mengisi rubrik investasi dan perencanaan keuangan. Di bidang organisasi pasar modal, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), selain sederet jabatan lainnya. Nama Adler Manurung juga tercatat dalam Tim Penasehat Yayasan Universitas HKBP Nommensen, Medan masa bakti 2008-2012. Kabar gembira lainnya, Adler Manurung pada pertengahan Maret mendatang akan segera dikukuhkan sebagai Profesor sekaligus Guru Besar ABFII Perbanas, Jakarta.
Tak heran bila Adler Manurung pernah masuk dalam bursa kandidat Direktur Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) pada 2002 lalu meski pada akhirnya ia belum berhasil menempati posisi tersebut. Semangat dan keinginan untuk terus belajar adalah ciri khas Adler Manurung ditambah gaya bicaranya yang lugas dan tegas. Meski harus sibuk pada urusan angka-angka, Adler tetap menghargai nilai-nilai habatahon yang mengalir dalam darahnya. “Saya selalu berusaha untuk hadir dan terlibat aktif dalam setiap acara adat,” ujar dia.
Ada hal menarik dari Adler Manurung terkait pandangannya pada sistem pertanian masyarakat Batak. Mungkin saja, pemahaman yang ia miliki belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat Batak yang berprofesi petani di bona pasogit. “Orang Batak sebenarnya tidak mengenal sistem pertanian, tetapi sistem perkebunan dan peternakan” jelas Adler. Alasannya, dapat disimak pada bentuk rumah Batak asli yang pada bagian bawahnya disediakan ruang kosong (marbara). “Pada dasarnya, ruang itu digunakan sebagai kandang ternak seperti kerbau. Ini membuktikan bahwa sesungguhnya masyarakat Batak sejak dulu memang cocok menjadi peternak. Hal lainnya adalah banyaknya perkebunan yang di daerah Tapanuli. Artinya, Tapanuli memang pas di bidang perkebunan dan peternakan, bukan pertanian,” kata Adler. Lantas, ia menganjurkan agar masyarakat Batak meniru sistem peternakan dan perkebunan di negara lain seperti Australia. Di Australia, lanjut Adler, peternakan lembu sangat maju karena dikelola dengan baik, hal sama juga berlaku pada perkebunan. Gaya pertanian masyarakat Batak yang cenderung menanami berbagai macam komoditas seharusnya diganti dengan gaya perkebunan pada komoditas tertentu tetapi dikelola secara profesional. Pardoksi

Betul sekali, batak memang punya karakter yang khas
Horas ma di bapa i … !!!
mauliate ma di naung di patangkas hamu taringot tu sifat manang karakter nihita halak batak,
tarlumobi hita angka Manurung i … !!!
molo boi, tambahi halak bapa dohot namboru majolo angka natarsingot tu partuturan ta RAJA TOGA MANURUNG. dohot asal mula ni Manurung sandiri … !!! asa di boto hami mangalanjuthon angka naung binahen mona i hadoan tu angka pomparan nami be.
ajari hamu hami angka naumposoon, molo tung pe godang na hurang parbinotoan nami tarsingot tu sude parmargaon, asa tong manat-manat hami laho mangalului parumaen muna haduan ,,,
Horas jala gabe ma di hita saluhutna …
syalom … !!!
Memang benar batak punya karakter yg khas, batak punya juga kelemahan karakter yg khas itu, batak sudah menunjukkan yg khas tapi kurang sempurna dalam bidang Jati Diri. Batak itu sangatlah sempurna diberikan MAHA SUCI, tapi Batak itu ada yg kurang sempurna sekarang. Dalam jati diri Batak yang sempurna ada Pengetahuan yg kuat, ada Welas Kasih Yg kuat, ada Kepemimpinan Yg kuat. tapi sekarang ada yg pintar punya pengetahuan tapi kurang Welas kasih dan Kepemimpinan dlm dirinya. ada kepemimpinan yg bagus tapi kurang Welas kasih dan Pengetahuan. ada yg Welas kasih dlm dirinya tapi kurang pengetahuan dan kepemimpinan. Dimana Batak yg punya karakter yg khas itu. kekurangan Batak dalam mencari jati diri utk menjadi Karakter yg Khas blum sempurna. Merasa sudah berhasil sudah sempurna dan sudah menemukan jati diri. Mudah-mudahan Batak menjadi Punya Karakter yg Mulia di dunia.
Horas Bapa, andigan berkunjung tu Medan ? KEEP THE BATAK’S SPIRIT HIGH